Pemikiran manusia terhadap alam semesta, tergantung dari
latar belakang pengetahuan dan ilmu yang dimiliki oleh manusia pada zamanya.
Sangat sulit mendapatkan informasi pemikiran manusia pemula terhadap alam
semesta, sebab meskipun manusia telah satu juta tahun berada di bumi, tapi
bukti arkeologi baru lebih kurang 40.000 tahun yang lalu. Bahkan bukti sejarah
dalam arti “tertulis” baru 4.000 tahun silam. Oleh karena itu pemikiran manusia
terhadap alam semesta di bawah ini,hanya berdasarkan bukti tertulis.
1.
Antroposentris.
Antroposentris (anthropus = manusia; centrum = pusat) yaitu pemikiran
bahwa manusia sebagai pusat segalanya. Bermula dari kurun waktu yang samar,
pada permulaan kehidupan manusia primitif; waktu manusia mulai menyadari ada
bumi dan langit. Matahari, bulan, bintang, dan bumi, di anggap serupa dengan
hewan, tumbuhan dan dengan dirinya sendiri. Semuanya memiliki kekuatan,
berpikir, bicara, kehandak, takut, tidur, dll. Pada pokoknya dalam alam pikiran
manusia primitif, jagat dengan bebagai isinya bercampur-campur memadu dengan
diri manusia, dengan kenyataan dan imajinasi. Pemujaan terhadap dewa matahari,
dewa laut, dewa gunung, dewa api, dan sebagainya, berpangkal tolak dari
pemikiran antroposentris ini. Sampai
sekarang pemikiran ini masih banyak penganutnya, karena pengetahuan alam dan
ilmu alam penyebaranya tidak merata kepada setiap orang.
Bangsa Babilon 2000 tahun sebelum Masehi
menggambarkan semesta ini merupakan kubah tertutup, dengan bumi sebagai
lantainya. Di sekeliling dianggapnya terdapat jurang tang tergenang air. Di
seberang air terdapat gunung tinggi penyangga langit. Para ahli zaman itu telah
mengetahui panjang tahun 365 hari.
Bangsa Ibrani (= Hebrew ) mempunyai
konsep semata yang dipengaruhi oleh alam pikiran Babilon. Mereka menganggap
bahwa langit ditopang oleh tiang- tiang
raksasa.Di langit terdapat bintang-bintang yang menempel. Juga ada
jendela-jendela untuk air hujan tercurah.
2.
Geosentris
Geosentris (Geo = bumi) yaitu pemikiran
bahwa bumi adalah pusat semesta alam. Semua benda langit mengelilingi bumi,
siang malam tak pernah berhenti, menjadi cirri bahwa setiap semua kekuatan alam
juga berpusat di bumi. Pemikiran dimulai lebih kurang abad ke-6 sebelum Masehi
(SM), waktu kaum ilmuan tertarik kepada alam sekitarnya. Di bawah ini beberapa ahli
tokoh penyokong geosentris.
Para penyokong faham geosentris.
Thales dari
daerah Melitus (546 SM) terkenal sebagai penemu Astronomi dari Greek.
Ia mengajar
para pelaut Greek menentukan bintang kutub, sebagai patokan pelayaran. Ia
menemukan waktu-waktu empat musim dalam tiap tahun, dengan cara meneliti
hari-hari terpendek dan hari-hari terpanjang. Ia meramalkan gerhana matahari
dengan tepat. Ia percaya bahwa bintang-bintang bercahaya sendiri, sedangkan
bulan hanya mendapat sinar dari matahari dan memantulkanya ke bumi. Ia
mengajarkan bahwa bumi sebagai cakram yang mengapung di air.
Anaxinabder (526 SM) masih sezaman
dengan thales, merupakan orang pertama yang menyatakan bahwa langit berputar
pada poros bintang kutub. Ia mengajarkan
bahwa kuba langit yang tampak adalah setengah bola yang komplit, dan bumi
sebagai pusatnya. Hal ini di yakini sampai beberpa abad kemudian, bahkan sampai
ekarang masih ada yang berpendapat bahwa bumi sebagai pusat jagat raya, semesta
alam. Ia juga orang pertama yang menentukan waktu dengan gerakan bayangan,
sebagai akibat tinggi-rendahnya matahari. Ia berkeyakinan bahwa semua benda
berasal dari substansi dasar, yaitu air. Bila air merenggang terjadilah api dan
bila membeku terjadilah tanah.
Pythagoras[1]
(500 SM) seorang ahli matematika yang di akui ketenaranya sampai sekarang. Ia
yakin bahwa bumi ini bulat dan berputar, sehingga menampakkan gerakan
perputaran semua dari langit. Ia mengajarkan bahwa ada empat unsure di bumi,
yaitu tanah, air, udara, dan api. Sampai kini masih ada juga yang berkeyakinan seperti Pythagoras tentang unur
ini.
Socrates[2]
(399 SM) seorang ahli pikir yang menganjurkan intripeksi ke dalam diri sendiri.
Ia beranggapan bahwa cara ini yang paling berharga dalam bentuk studi.
Meskipun ia percaya pada perputaran
langit, tapi mempengaruhi orang agar menjauh dari penelitian terhadap alam.
Plato[3]
(384 SM) adalah bapak Greek terbesar dalam ilmu dan pengetahuan. Ia menguasai
hamper emua ilmu pada zamanya. Tulisanya merupakan ensiklopedia terbesar hampir
selama 2000 tahun. Meskipun tidak memperdalam tetntang fisika dan astronomi,
tapi ia mengemukakan pendapat bahwa planet- planet adalah super natural dan
sama sekali tidak serupa dengan bumi. Ia menambahkan satu unsur bumi , menjadi:
tanah, air, udara, api, dan ether.yang terakhir ini di anggapnya substrat
tempat segala benda dapat di bagi sampai bagian terkecil yang di sebut atom.
Mengenai ini akan di bicarakan dalam teori atom.
Erastothenes (195 SM) orang pertama yang
bermaksud mengukur ukuran bumi, sebagai benda bulat. Ia mencatat bahwa pada
tanggal 21 juni di Syene, Mesir, matahari melwati tepat di atas kepalanya.
Setahun kemudian di Alexandria – sebelah utara syene-matahari pada bulan yang
sama dan tanggal yang sama, melewati kepalanya agak sedikit ke sebelah selatan.
Kira-kira lebar sudut tujuh derajat. Jarak syene dengan Alexandria kira-kira 600 m. ini berarti bila bumi bulat,
360 derajat, maka keliling bumi dapat di ukur sebagai berikut:
x600 km = 36.000 km
Kini kita
ketahui bahwa bumi di ekuator adalah 40.000 km.
Hipparchus
(meninggal pada 125 SM) adalah ahli
astronomi Greek tenar yang terakhir. Ia membuat katalog kira-kira 1080 bintang
dan mengklasifikasikan bintang
berdasarakn kecermelanganya. Kemudian menetukan letak matahari di antara berbagai bintang, ia juga mengukur
besaran bulan serta jaraknya dari bumi,
dengan kesalahanya hanya 10%.
Claudius
ptolomeus (85-165 SM) pada tahun 127 sampai 151 Masehi. Melakukan obserasi di
Alexandria, yang merupakan pusat budaya Mesir. Ia masih menganggap bahwa bumi
sebagai pusat alam semesta.
Kemudian dunia
ilmu seakan-akan berhenti, bahkan seperti adanya mundur ke anggapan thales. Ini
di sebabkan besarnya kekuasaan gereja dalam segala aspek kehidupan. Dengan
munculnya kekuatan islam, maka terjadi pembenturan fikiran lama dengan pikiran
baru. Terutama setelah terjadinya perang salib dan pembebasan budak- budak,
maka orang-orang eropa terbuka matanya bahwa di sebelah Timur trdapat kemajuan
berpikir yang baru. Hal ini megubah orientasi para ahli Eropa. Buku-buku yang
di tulis oleh orang-orang arab di terjamahkan dan di pelajari. Bahkan para ahli
dari Eropa juga banyak belajar ke timur tengah, teristimewa ke Mesir.
Dalam
astronomi antara lain ibnu yunis, meninggal di Kairo tahun 1009, pernah
mengumpulkan hasil observasi dalam 200 tahun terakhir d kala itu. Bersama
AL-Hakim membuat table bintang denga cara tertentu, yang kini di kenal sebagai
“Hakemite astronomical” table”.
Keadaan itu membawa arus pengetahuan ke zaman
renaissance dan mulailah babak baru dalam ilmu astronomi ke dalam faham
Heliosentris.
3.
Heliosentris
Heliosentris(helios = matahari) yaitu
pemikiran bahwa pusat semesta alam adalah matahari. Ini berarti pergeseran
pandangan yang di anggap revolusioner pada waktu itu, yang menggantikan
kedudukan bumi; sebagai akibat makin majunya alat peneliti yang sifat ilmuan
yang keritis. Di bawah ini beberapa ahli pendukung heliosentris.
Nikolaus
Copernicus (1473-1543) seorang pelukis terlatih, mahasiswa kedokteran, ilmu
pasti (matematik) dan dan Astronomi. Ia melihat beberapa kekeliruan dalam tabel
buatan ptolomeus. Pada tahun 1507 ia menuli buku yang sangat terkenal “ De
revolutionibus Orbium Caelestium” (=tentang revolusi peredaran benda-benda
langit).
Ia
mengemukakan adanya sistem matahari; bahwa bulan juga mengelilingi bumi dan
bersama-sama mengitari matahari; bahwa bumi berputar ke timur yang menyebabkan
siang dan malam.
Bruno
(1548-1601), pengikut Copernicus, lebih jauh menyatakan bahwa bintang-bintang
berserakan di langit, di alam semesta. Akan tetapi ia di tuduh murtad oleh
pihak gereja yang waktu itu berkuasa. Kemudian ia di hukum bakar di atas
tonggak.
Tycho Brache
(1546-1601). Meskipun ia menolak teori Copernicus, akan tetapi ia membuat
perlengkapan observasi yang lebih baik.
Johanes
Keppler (1571-1630). Seorang murid tycho Brache, berdasarkan penelitianya lalu
menyokong teori Copernicus. Ia menyatakan bahwa planet-planet mengelilingi
matahari dengan lintasan lonjong (elips). Hal ini kelak mendasari teori newton,
bahwa dua masa saling menarik di jagad raya.
Galileo[4]
(1564-1642) dengan teleskop yang lebih baik, ia membenarkan teori Copernicus,
meskipun mendapat tantangan keras dari pihak gereja. Ia menemukan pula
gunung-gunung di bulan; ia menemukan
bahwa matahari berputar pada porosnya, dengan memperhatikan bintik-bintik di
matahari, ia menemukan pula cincin disekeliling
planet saturnus, dan menyatakan bahwa “via Lactea” (milky way= jalan
susu, bima sakti) tidak dari pada kumpulan bintang yang banyaknya
bermilyar-milyar.
Sir Isaac
Newton (1642-1727)[5], membuat teleskop
reflector yang pertama. Salah satu bentuk teleskop yang menghasilkan bentuk
bayangan lebih sempurna di zaman itu. Dari hasil penelitianya lahirlah hukum
yang kita kenal kini sebagai “Hukum Gravitasi Universal” dari newtn yang
berbunyi: setiap benda yang mempunyai massa di jagad raya, saling menarik satu
sama lain dengan arah lurus, kekuatanya berbanding lurus dengan massanya dan
berbanding terbalik dengan kuwadrat jaraknya.Di rumuskan sebagai berikut :
K = besarnya gaya gravitasi
K = kostanta planck
J = jarak
M1= massa benda pertama
M2= masa benda ke dua
Hukum ini kemudian di perbaiki oleh
Einstein (1879-1955), bahwa hukum tersebut hanya benaruntuk benda diam, tapi
bagi yang bergerak kurang tepat.
Newton juga
mengemukakan “Hukum Gerak Newton”, sebagai berikut :
a.
Suatu
benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak akan tetap bergerak
lurus dengan kecepatan sama kecuali bila ada kekuatan lain yang bekerja
padanya.
b.
Perubahan
kecepatan benda di kalikan dengan massanya, adalah berbanding lurus dengan waktu
dan besarnya kekuatan yang bekerja terhadap benda itu. Arahnya tergantung
kepada arah kekuatan itu.
c.
Kekuatan
aksi sama dengan kekuatan rekasi.
Ketiganya banyak di pakai
dalam praktek. Berbagai perhitungan benda langit, juga menggunakan hukum
tersebut.
4.Galaktosentris
Galaktosentris (galaxy = kumpulan jutaan
bintang) yaitu pemikiran bahwa puat alam semesta bukan lagi di bumi atau
matahari melainkan galaksi sebagai pusat semesta alam. Untuk memahami galaksi,
kita perlu mempelajari sifat bintang atau pengetahuan tentang bintang, rasi
bintang. Galaktosentris dimulai tahun 1920 di tandai dengan pembangunan
teleskop raksasa di Amerika Serikat, sehingga informasi tentang galaksi makin
jelas.
5.Asentris
Asentris (a = tidak) yaitu serentak dengan munculnya
radio teleskop, sehingga tumbuh anggapan tidak perlu lagi ada pusat-pusatan
dalam alam semesta ini. Semuanya harus di anggap beredar dalam konstelasi
alamiah. Radioteleskop telah mampu mendeteksi sinar yang datangnya dari tempat
yang jauhnya 5.000 juta tahun cahaya. Lebih jauh dari itu akan trjangkau dengan
teknologi elektronim masa depan dan pikiran kita boleh menduga di luar masih
luas alam semesta itu.
[1]
Pythagoras lahir tahun 570 SM di Samos, Aegea Utara, Yunani . Meninggal tahun
495 SM (berusia sekitar 75 tahun) di Metapontum, Provinsi Matera, Basilicata,
Italia. Gagasan penting: Musika
universalis, Tala Pythagoras, Teorima pythagoras
[2]
Scorates lahir tahun 469 SM di Deme Alopece, Athena.Meninggal tahun 399 SM (umur sekitar 71 tahun) kebangsaan
Yunani, gagasan penting: Metode Sokrates, Ironi.
[3]
Plato lahir tahun 427 SM di Athena. Meninggal tahun 347 SM berkebangsaan Yunani
[4]
Galileo lahir di Pisa, Toscana, 15 februari 1564. Meninggal di Arcetri Toscana,
8 januari 1642 (umur sekitar 77 tahun) adalah seorang astronom, filsuf, dan
fisikawan Italia.
[5]
Sir Isaac newton lahir di Lincolnshire, 4 januari 1643. Meninggal 31 maret 1727
(umur sekitar 84 tahun) adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli
astronomi, filsuf alam, alkimiawi.
ok,,, semoga bermanfaat... TKS BROOOO....