Rabu, 01 Oktober 2014

pemikiran manusia tentang alam semesta




Pemikiran manusia terhadap alam semesta, tergantung dari latar belakang pengetahuan dan ilmu yang dimiliki oleh manusia pada zamanya. Sangat sulit mendapatkan informasi pemikiran manusia pemula terhadap alam semesta, sebab meskipun manusia telah satu juta tahun berada di bumi, tapi bukti arkeologi baru lebih kurang 40.000 tahun yang lalu. Bahkan bukti sejarah dalam arti “tertulis” baru 4.000 tahun silam. Oleh karena itu pemikiran manusia terhadap alam semesta di bawah ini,hanya berdasarkan bukti tertulis.

1.    Antroposentris.
     Antroposentris (anthropus = manusia; centrum = pusat) yaitu pemikiran bahwa manusia sebagai pusat segalanya. Bermula dari kurun waktu yang samar, pada permulaan kehidupan manusia primitif; waktu manusia mulai menyadari ada bumi dan langit. Matahari, bulan, bintang, dan bumi, di anggap serupa dengan hewan, tumbuhan dan dengan dirinya sendiri. Semuanya memiliki kekuatan, berpikir, bicara, kehandak, takut, tidur, dll. Pada pokoknya dalam alam pikiran manusia primitif, jagat dengan bebagai isinya bercampur-campur memadu dengan diri manusia, dengan kenyataan dan imajinasi. Pemujaan terhadap dewa matahari, dewa laut, dewa gunung, dewa api, dan sebagainya, berpangkal tolak dari pemikiran  antroposentris ini. Sampai sekarang pemikiran ini masih banyak penganutnya, karena pengetahuan alam dan ilmu alam penyebaranya tidak merata kepada setiap orang.
Bangsa Babilon 2000 tahun sebelum Masehi menggambarkan semesta ini merupakan kubah tertutup, dengan bumi sebagai lantainya. Di sekeliling dianggapnya terdapat jurang tang tergenang air. Di seberang air terdapat gunung tinggi penyangga langit. Para ahli zaman itu telah mengetahui panjang tahun 365 hari.
Bangsa Ibrani (= Hebrew ) mempunyai konsep semata yang dipengaruhi oleh alam pikiran Babilon. Mereka menganggap bahwa langit ditopang oleh tiang- tiang  raksasa.Di langit terdapat bintang-bintang yang menempel. Juga ada jendela-jendela untuk air hujan tercurah.
2.    Geosentris
Geosentris (Geo = bumi) yaitu pemikiran bahwa bumi adalah pusat semesta alam. Semua benda langit mengelilingi bumi, siang malam tak pernah berhenti, menjadi cirri bahwa setiap semua kekuatan alam juga berpusat di bumi. Pemikiran dimulai lebih kurang abad ke-6 sebelum Masehi (SM), waktu kaum ilmuan tertarik kepada alam sekitarnya. Di bawah ini beberapa ahli tokoh penyokong geosentris.

Para penyokong faham geosentris.
          Thales dari daerah Melitus (546 SM) terkenal sebagai penemu Astronomi dari Greek.
          Ia mengajar para pelaut Greek menentukan bintang kutub, sebagai patokan pelayaran. Ia menemukan waktu-waktu empat musim dalam tiap tahun, dengan cara meneliti hari-hari terpendek dan hari-hari terpanjang. Ia meramalkan gerhana matahari dengan tepat. Ia percaya bahwa bintang-bintang bercahaya sendiri, sedangkan bulan hanya mendapat sinar dari matahari dan memantulkanya ke bumi. Ia mengajarkan bahwa bumi sebagai cakram yang mengapung di air.
Anaxinabder (526 SM) masih sezaman dengan thales, merupakan orang pertama yang menyatakan bahwa langit berputar pada poros  bintang kutub. Ia mengajarkan bahwa kuba langit yang tampak adalah setengah bola yang komplit, dan bumi sebagai pusatnya. Hal ini di yakini sampai beberpa abad kemudian, bahkan sampai ekarang masih ada yang berpendapat bahwa bumi sebagai pusat jagat raya, semesta alam. Ia juga orang pertama yang menentukan waktu dengan gerakan bayangan, sebagai akibat tinggi-rendahnya matahari. Ia berkeyakinan bahwa semua benda berasal dari substansi dasar, yaitu air. Bila air merenggang terjadilah api dan bila membeku terjadilah tanah.
Pythagoras[1] (500 SM) seorang ahli matematika yang di akui ketenaranya sampai sekarang. Ia yakin bahwa bumi ini bulat dan berputar, sehingga menampakkan gerakan perputaran semua dari langit. Ia mengajarkan bahwa ada empat unsure di bumi, yaitu tanah, air, udara, dan api. Sampai kini masih ada juga yang  berkeyakinan seperti Pythagoras tentang unur ini.
Socrates[2] (399 SM) seorang ahli pikir yang menganjurkan intripeksi ke dalam diri sendiri. Ia beranggapan bahwa cara ini yang paling berharga dalam bentuk studi.
Meskipun ia percaya pada perputaran langit, tapi mempengaruhi orang agar menjauh dari penelitian terhadap alam.
Plato[3] (384 SM) adalah bapak Greek terbesar dalam ilmu dan pengetahuan. Ia menguasai hamper emua ilmu pada zamanya. Tulisanya merupakan ensiklopedia terbesar hampir selama 2000 tahun. Meskipun tidak memperdalam tetntang fisika dan astronomi, tapi ia mengemukakan pendapat bahwa planet- planet adalah super natural dan sama sekali tidak serupa dengan bumi. Ia menambahkan satu unsur bumi , menjadi: tanah, air, udara, api, dan ether.yang terakhir ini di anggapnya substrat tempat segala benda dapat di bagi sampai bagian terkecil yang di sebut atom. Mengenai ini akan di bicarakan dalam teori atom.
Erastothenes (195 SM) orang pertama yang bermaksud mengukur ukuran bumi, sebagai benda bulat. Ia mencatat bahwa pada tanggal 21 juni di Syene, Mesir, matahari melwati tepat di atas kepalanya. Setahun kemudian di Alexandria – sebelah utara syene-matahari pada bulan yang sama dan tanggal yang sama, melewati kepalanya agak sedikit ke sebelah selatan. Kira-kira lebar sudut tujuh derajat. Jarak syene dengan Alexandria  kira-kira 600 m. ini berarti bila bumi bulat, 360 derajat, maka keliling bumi dapat di ukur sebagai berikut:
x600 km = 36.000 km



          Kini kita ketahui bahwa bumi di ekuator adalah 40.000 km.

          Hipparchus (meninggal pada 125 SM)  adalah ahli astronomi Greek tenar yang terakhir. Ia membuat katalog kira-kira 1080 bintang dan mengklasifikasikan  bintang berdasarakn kecermelanganya. Kemudian menetukan letak matahari  di antara berbagai bintang, ia juga mengukur besaran bulan  serta jaraknya dari bumi, dengan kesalahanya hanya 10%.
          Claudius ptolomeus (85-165 SM) pada tahun 127 sampai 151 Masehi. Melakukan obserasi di Alexandria, yang merupakan pusat budaya Mesir. Ia masih menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta.
          Kemudian dunia ilmu seakan-akan berhenti, bahkan seperti adanya mundur ke anggapan thales. Ini di sebabkan besarnya kekuasaan gereja dalam segala aspek kehidupan. Dengan munculnya kekuatan islam, maka terjadi pembenturan fikiran lama dengan pikiran baru. Terutama setelah terjadinya perang salib dan pembebasan budak- budak, maka orang-orang eropa terbuka matanya bahwa di sebelah Timur trdapat kemajuan berpikir yang baru. Hal ini megubah orientasi para ahli Eropa. Buku-buku yang di tulis oleh orang-orang arab di terjamahkan dan di pelajari. Bahkan para ahli dari Eropa juga banyak belajar ke timur tengah, teristimewa ke Mesir.
          Dalam astronomi antara lain ibnu yunis, meninggal di Kairo tahun 1009, pernah mengumpulkan hasil observasi dalam 200 tahun terakhir d kala itu. Bersama AL-Hakim membuat table bintang denga cara tertentu, yang kini di kenal sebagai “Hakemite astronomical” table”.
 Keadaan itu membawa arus pengetahuan ke zaman renaissance dan mulailah babak baru dalam ilmu astronomi ke dalam faham Heliosentris.
3.    Heliosentris
Heliosentris(helios = matahari) yaitu pemikiran bahwa pusat semesta alam adalah matahari. Ini berarti pergeseran pandangan yang di anggap revolusioner pada waktu itu, yang menggantikan kedudukan bumi; sebagai akibat makin majunya alat peneliti yang sifat ilmuan yang keritis. Di bawah ini beberapa ahli pendukung  heliosentris.
          Nikolaus Copernicus (1473-1543) seorang pelukis terlatih, mahasiswa kedokteran, ilmu pasti (matematik) dan dan Astronomi. Ia melihat beberapa kekeliruan dalam tabel buatan ptolomeus. Pada tahun 1507 ia menuli buku yang sangat terkenal “ De revolutionibus Orbium Caelestium” (=tentang revolusi peredaran benda-benda langit).
          Ia mengemukakan adanya sistem matahari; bahwa bulan juga mengelilingi bumi dan bersama-sama mengitari matahari; bahwa bumi berputar ke timur yang menyebabkan siang dan malam.
          Bruno (1548-1601), pengikut Copernicus, lebih jauh menyatakan bahwa bintang-bintang berserakan di langit, di alam semesta. Akan tetapi ia di tuduh murtad oleh pihak gereja yang waktu itu berkuasa. Kemudian ia di hukum bakar di atas tonggak.
          Tycho Brache (1546-1601). Meskipun ia menolak teori Copernicus, akan tetapi ia membuat perlengkapan observasi yang lebih baik.
          Johanes Keppler (1571-1630). Seorang murid tycho Brache, berdasarkan penelitianya lalu menyokong teori Copernicus. Ia menyatakan bahwa planet-planet mengelilingi matahari dengan lintasan lonjong (elips). Hal ini kelak mendasari teori newton, bahwa dua masa saling menarik di jagad raya.
          Galileo[4] (1564-1642) dengan teleskop yang lebih baik, ia membenarkan teori Copernicus, meskipun mendapat tantangan keras dari pihak gereja. Ia menemukan pula gunung-gunung di  bulan; ia menemukan bahwa matahari berputar pada porosnya, dengan memperhatikan bintik-bintik di matahari, ia menemukan pula cincin disekeliling  planet saturnus, dan menyatakan bahwa “via Lactea” (milky way= jalan susu, bima sakti) tidak dari pada kumpulan bintang yang banyaknya bermilyar-milyar.
          Sir Isaac Newton (1642-1727)[5], membuat teleskop reflector yang pertama. Salah satu bentuk teleskop yang menghasilkan bentuk bayangan lebih sempurna di zaman itu. Dari hasil penelitianya lahirlah hukum yang kita kenal kini sebagai “Hukum Gravitasi Universal” dari newtn yang berbunyi: setiap benda yang mempunyai massa di jagad raya, saling menarik satu sama lain dengan arah lurus, kekuatanya berbanding lurus dengan massanya dan berbanding terbalik dengan kuwadrat jaraknya.Di rumuskan sebagai berikut :


K = besarnya gaya gravitasi
K = kostanta planck
J  = jarak
M1= massa benda pertama
M2= masa benda ke dua

Hukum ini kemudian di perbaiki oleh Einstein (1879-1955), bahwa hukum tersebut hanya benaruntuk benda diam, tapi bagi yang bergerak kurang tepat.
          Newton juga mengemukakan “Hukum Gerak Newton”, sebagai berikut :
a.    Suatu benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak akan tetap bergerak lurus dengan kecepatan sama kecuali bila ada kekuatan lain yang bekerja padanya.
b.    Perubahan kecepatan benda di kalikan dengan massanya, adalah berbanding lurus dengan waktu dan besarnya kekuatan yang bekerja terhadap benda itu. Arahnya tergantung kepada arah kekuatan itu.
c.    Kekuatan aksi sama dengan kekuatan rekasi.

Ketiganya banyak di pakai dalam praktek. Berbagai perhitungan benda langit, juga menggunakan hukum tersebut.
4.Galaktosentris
   Galaktosentris (galaxy = kumpulan jutaan bintang) yaitu pemikiran bahwa puat alam semesta bukan lagi di bumi atau matahari melainkan galaksi sebagai pusat semesta alam. Untuk memahami galaksi, kita perlu mempelajari sifat bintang atau pengetahuan tentang bintang, rasi bintang. Galaktosentris dimulai tahun 1920 di tandai dengan pembangunan teleskop raksasa di Amerika Serikat, sehingga informasi tentang galaksi makin jelas.
5.Asentris
             Asentris (a = tidak) yaitu serentak dengan munculnya radio teleskop, sehingga tumbuh anggapan tidak perlu lagi ada pusat-pusatan dalam alam semesta ini. Semuanya harus di anggap beredar dalam konstelasi alamiah. Radioteleskop telah mampu mendeteksi sinar yang datangnya dari tempat yang jauhnya 5.000 juta tahun cahaya. Lebih jauh dari itu akan trjangkau dengan teknologi elektronim masa depan dan pikiran kita boleh menduga di luar masih luas alam semesta itu.


[1] Pythagoras lahir tahun 570 SM di Samos, Aegea Utara, Yunani . Meninggal tahun 495 SM (berusia sekitar 75 tahun) di Metapontum, Provinsi Matera, Basilicata, Italia. Gagasan penting:  Musika universalis, Tala Pythagoras, Teorima pythagoras

[2] Scorates lahir tahun 469 SM di Deme Alopece, Athena.Meninggal tahun 399 SM (umur sekitar 71 tahun) kebangsaan Yunani, gagasan penting: Metode Sokrates, Ironi.
[3] Plato lahir tahun 427 SM di Athena. Meninggal tahun 347 SM berkebangsaan Yunani
[4] Galileo lahir di Pisa, Toscana, 15 februari 1564. Meninggal di Arcetri Toscana, 8 januari 1642 (umur sekitar 77 tahun) adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia.
[5] Sir Isaac newton lahir di Lincolnshire, 4 januari 1643. Meninggal 31 maret 1727 (umur sekitar 84 tahun) adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiawi. 


ok,,, semoga bermanfaat... TKS BROOOO....

Sabtu, 27 September 2014

pengalaman saya

Siang itu suasana di masjid terasa sangat sunyi, tidak seperti biasanya yang selalu ramai dengan lantunan ayat ayat al qur'an. sunyi bukan karena tiadanya santri di sana, tapi karena suara seorang ustadz yang sedang memarahi kami karena kami kurang lancar ketika mengulang hafalan kami. di antara kami tidak ada yang berani untuk bersuara karena memang berbeda suasananya kalau ustadz itu lagi marah. agak gimana gituu...
bemula dari satu hari sebelum kejadian itu. ada seorang santri sebut saja namanya hendra, dengan bangganya dia menyebarkan informasi bahwa malam ini akan ada pertandingan final champion. santripun dengan yakinya membuat rencana untuk menyaksikan pertandingan itu. padahal pertandingan itu baru mulai pukul 2 dini hari, tapi ya karena hobi hampir separuh santri keluar untuk menyaksikanya. keesokan harinya seperti biasa ustad yang bertugas ngajar hari itu datang. namun alangkah terkejutnya beliau ketika menyima'kan hafalan kami yang tidak lancar. yaa kami pasrah untuk di marahi. ketika ustad terebut memarahi kami saya merasa kecewa dan menyesal kepada diri saya, memang bahasa yang di lontarkan lembut tapi sangat menyakitkan.. 
ok, buat teman teman yang sedang menghafal atau kegiatan lainya... gunakan waktu anda sebaik mungkin. karena waktu yang telah barlalu tak kan mungkin datang kembali... tks brooo